インドネシア・政権抗争の中でのNGOの共同声明


 この声明文を起草したNGO連合には、インドネシアの開発に関する国際NGOフォーラム(INFID)、インドネシア法律扶助協会(YLBHI)、インドネシア環境フォーラム(WALHI)、ビナ・デサ、アカティガ財団、ソリダリタシ・プルンプアン、市民による調査とアドボカシー機関(ELSAM)をはじめとする75団体(全団体のリストは、インドネシア語の原文参照)が加わっています。NGO連合は7月22日に会合を開き、インドネシアの緊急課題に関する声明としてこの声明文を起草しました。翌23日の午前1時にアブドゥル・ラフマン大統領(通称グス・ドゥル)は、MPR凍結のため文民非常事態宣言を発令、しかしMPRの特別総会は23日午前9時に開催され、午後5時にメガワティ・スカルノプトゥリ大統領が誕生しました。このような激しい政治展開によって、この声明文のいくつかの項目は覆されてしまいましたが、列挙されている根本的な問題は依然として残っています。

 また22日夜に、グス・ドゥルの個人的な友人である幾人かのNGOのメンバーが大統領府を訪れたことで、インドネシアのメディアがMPR凍結のための文民非常事態宣言はNGOの差し金であると報道しました。しかしこの声明文に見られるように、NGO連合はそのような要求をしていません。

 声明は政権抗争に明け暮れる政治家を激しく批判し、45年憲法の問題を指摘し、旧体制と軍の復活を憂慮するものです。また今回のアブドゥルラフマン・ワヒド氏(グス・ドゥル)の解任と文民非常事態宣言という事態の背景には、NGOも指摘するような45年憲法にもとづく政治システムそのものに不備があったこともひとつに挙げられます。この点については、『インドネシア・ニュースレター』2001年38号に関連記事を掲載しています(ご希望の方は、janni@jca.apc.orgまでお申し込みください)。

JANNI事務局

インドネシアNGO共同声明
憲法の行き詰まりと政府による権力の濫用に抗議する

 行政府と立法府の正統性が双方の対立によって失墜し、特別総会の前倒しによって大統領「弾劾」を審議すると国民協議会(MPR)が決議したことは、民主主義にとっての悲劇である。この最大の犠牲者は国民であり、国民(の利益)との大きな衝突を意味する。

 この特別総会は、暴力の増加という私たちが現在直面している危機を解決するものではない。一方では、行政府と議会がそれぞれの憲法解釈を持つという憲法の行き詰まりが生じ、他方では憲法解釈を示す権限を持つ機関が存在しない。結果として、それぞれの憲法解釈が国民の利益を通してではなく、政治勢力の党派的利益に基づいて表出される傾向にある。

 さらに1999年総選挙後の政策実施期間において、行政府と議会による権力の濫用が起こっている。特に反大統領派が多数派勢力を確保していると自負する議会側は、強権を唯一の解決策であると主張し発動している。そして、その解決策が場当たり的であるため、憲法問題に関する回答を出していないばかりか、破局を招きかねない議会内の対立も収拾しようとしていない。

 その上、暴力、爆弾テロ、宗教・民族間衝突、対外債務問題、汚職・馴れ合い・縁故主義(KKN)、人権侵害、そして立法府議員の最優先の職務であるはずの法案の起草の停滞という、政策実施者として根本的な問題を解決しようとする真摯な努力が見られない。

 以上のことから、私たちNGOは以下のような憂慮を表明する。
1. 憲法解釈の行き詰まりのため、際限なく権力闘争が起こった。
2. 行政府と立法府による権力の濫用が起こっている。特に議会が、過去と現在まで引き続き起こっている人権侵害問題の清算を始めとする改革の課題を成し遂げようとしていないことが原因である。
3. 政策実施の失敗があり、国家組織構造全体の崩壊となった。
4. 政府機関を通して問題を解決するという希望がなく、国民レベルの大問題を解決する必要条件である政策実施者間の政治対話の行き詰まりが起こっている。
5. 政争の道具としてテロや暴力を用いることが慣習化され、それによって少数派民族を含む庶民が犠牲になっている。

 そのため、以下のような解決策を要求する。
1. すべての政府機関に統治する信託を与える側としての国民に、その信託を返還する。
2. この信託の返還は、より民主的なシステムによる総選挙を、時期を前倒しして行うことによって実現されるべきである。
3. 大統領公選制を可能にする憲法改正と、国民主権と公正の原則を満たすため政党政治と総選挙に関する法律の改変を行う。
4. 政争が国民の命を犠牲にした場合、それは完全に政府組織で権力を握るすべての政治エリートの責任である。
5. 権力を濫用しているすべての政府機関への支持を撤回するよう社会に呼びかける。
6. 国政の場に復帰しようとする国軍と「新秩序」勢力の試みを警戒し、騙されないよう社会に呼びかける。
7. 暴力とテロによるすべての手段を拒否するよう社会に呼びかける。
8. 民主主義と改革の継続を擁護するための結束強化をすべての民主化支援運動に呼びかける

以上が、改革を以前の路線に戻すためのNGO連合の立場と提案である。

2001年7月22日、ジャカルタ

署名団体    
        1.. INFID
        2.. YLBHI
        3.. PBHI
        4.. PBHI Jakarta
        5.. WALHI
        6.. WALHI Sumsel
        7.. Solidaritas Perempuan
        8.. Mitra Perempuan
        9.. Gema Perempuan
        10.. Koalisi Perempuan Indonesia
        11.. APIK 
        12.. LBH APIK, Jakarta
        13.. Sanggar Ciliwung
        14.. URP
        15.. BP-KPA
        16.. KAPAL Perempuan
        17.. FND
        18.. HuMa
        19.. Yayasan NADI
        20.. FPPI
        21.. SOLIDAMOR
        22.. PIJAR Indonesia
        23.. Solidaritas Nusa Bangsa
        24.. YLK Sulsel
        25.. Koalisi Ornop Sulsel
        26.. Forum Pemerhati Perempuan Sulsel
        27.. Aliansi Nasional untuk Konsolidasi Demokrasi
        28.. YKRS
        29.. Bina Desa
        30.. ELSAM
        31.. FAPI
        32.. Institut Sosial Jakarta
        33.. Kelompok Perempuan Salsabila
        34.. YBH Bantaya, Palu
        35.. Lembaga Bela Banua Talino, Pontianak
        36.. Serikat Petani Karet Kalbar, Pontianak
        37.. Konsorsium Pemberdayaan Masyarakat Dayak Pancur Kasih, Pontianak
        38.. Yayasan Leuser Lestari, Medan
        39.. Kelompok Studi Konservasi Alam, Medan
        40.. AKATIGA Bandung
        41.. YBKS Solo
        42.. Koslata Mataram
        43.. Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KSHK)
        44.. Jaring PELA
        45.. RMI Bogor
        46.. KAPT/N
        47.. Masyarakat Indonesia untuk Kemanusiaan (MIK)
        48.. INSIST, Yogyakarta
        49.. Seknas KOP-WTO
        50.. Jaringan Organisasi Independen untuk Penguatan Rakyat (JOITARA), Sumut
        51.. Serikat Perempuan Indonesia, Sumut
        52.. Perhimpunan Buruh Perkebunan Independen Sumut (PERBBUNI)
        53.. Urban Poor Consortium (UPC)
        54.. SARI Solo
        55.. FORSOLA
        56.. Manikaya Kauci, Bali
        57.. Yayasan Hidup Baru, Jakarta
        58.. TAPAK AMBON
        59.. LBH Pemberdayaan Perempuan Indonesia, Makasar
        60.. Serikat Nelayan Sumatera Utara (SNSU)
        61.. Yayasan HAPSARI Perbaungan, Sumut
        62.. Pusat Komunikasi dan Informasi Perempuan (PIKP), Sumut
        63.. Yayasan Anak Laut (YAL), Sumut
        64.. Wadah Pengembangan Alternatif Pedesaan (WPAP), Sumut
        65.. Solidaritas untuk Perjuangan Buruh (SERU), Sumut
        66.. Yayasan Buruh Mandiri (BUMI), Sumut
        67.. Yayasan Pendidikan Bersama Masyarakat (YPBM), Sumut
        68.. Lembaga Pemajuan  Sumberdaya Rakyat (LAJUSUAR), Sumut
        69.. Perhimpunan Petani Mandiri (PERPARI), Sumut
        70.. Forum Komunikasi Pelajar (FKP), Sumut
        71.. Forum Mahasiswa Deli Serdang (FORMADES)
        72.. Kelompok Sedar Tani, Sumut
        73.. Yayasan Bina Alam Indonesia, Sumut
        74.. Handal Mahardika, Sumut
        75.. Konsorsium Pembela Buruh Migran Indonesia (KOPBUMI)


PERNYATAAN SIKAP KOALISI ORNOP TERHADAP

KEBUNTUAN KONSTITUSIONAL DAN PENYELEWENGAN KEKUASAAN OLEH INSTITUSI-INSTITUSI NEGARA

 Adanya konflik antara pihak eksekutif dan legislatif yang keduanya telah menurun legitimasinya, disamping adanya keputusan MPR yang mengagendakan impeachment terhadap presiden melalui Sidang Istimewa yang dipercepat akan membawa tragedi demokrasi dan berimplikasi pada konflik berskala luas dengan rakyat sebagai korban utama.

Sidang Istimewa bukanlah jalan keluar dari krisis yang sedang kita hadapi terutama dengan adanya eskalasi kekerasan yang mulai tampak di depan mata. Di satu pihak telah terjadi kebuntuan konstitusional, di mana baik eksekutif maupun parlemen mempunyai tafsir masing-masing atas konstitusi. Di pihak lain, lembaga yang mempunyai kewenangan untuk memberi tafsir konstitusi tidak ada. Akibatnya tafsir masing-masing didasarkan atas kekuatan politik, yang cenderung mengedepankan kepentingan kekuatan politik partisan, bukan pada kacamata kepentingan bangsa.

Selain itu, dalam periode penyelenggaraan negara paska Pemilu 1999 telah terjadi penyelewengan kekuasaan (abuse of power) di kedua belah pihak baik eksekutif dan legislatif. Khususnya pihak parlemen yang merasa memiliki kekuatan mayoritas di parlemen menggunakan  cara pemaksaan kehendak sebagai satu-satunya jalan keluar. Dan karena menyelesaikannya secara ad-hoc, justru tidak akan pernah menjawab persoalan konstitusi dan bahkan memelihara konflik permanen yang terus berpotensi menciptakan bencana.

Demikian pula tidak kita lihat usaha-usaha yang serius dilakukan oleh penyelenggara negara untuk menyelesaikan masalah-masalah yang fundamental, seperti masalah kekerasan, terror bom., konflik agama dan etnis, hutang luar negeri, KKN, pelanggaran HAM serta terbengkalainya sebagian besar tugas-tugas utama legislator untuk menyiapkan Undang-Undang.

Dengan ini berdasarkan pertimbangan di atas, kami Koalisi Ornop menyampaikan keprihatinan sebagai berikut:

  1.. Telah terjadi konflik kekuasaan yang tidak ada habis-habisnya yang timbul karena kebuntuan tafsir konstitusi..
  2.. Terjadinya penyelewengan kekuasaan kedua belah pihak yang terutama disebabkan oleh tidak adanya kehendak dari parlemen dalam menyelesaikan agenda-agenda reformasi, termasuk juga tiadanya penyelesaian atas masalah-masalah dasar pelangaran HAM di masa lalu maupun pelanggaran terus menerus yang terjadi sampai saat ini.
  3.. Telah terjadi kegagalan penyelenggaraan negara yang merupakan kegagalan dari seluruh struktur institusi negara.
  4.. Terjadinya kebuntuan dalam komunikasi politik di antara para penyelenggara negara yang merupakan prasyarat untuk menyelesaikan masalah-masalah besar bangsa tanpa ada harapan penyelesaiannya melalui lembaga-lembaga negara.
  5.. Dibudayakannya penggunaan terror dan kekerasan sebagai alat konflik politik yang telah mengorbankan rakyat kecil termasuk kaum minoritas.
Oleh karena itu kami menuntut adanya solusi sebagai berikut:

  1.. Mengembalikan mandat kepada rakyat sebagai pihak yang memberikan mandat untuk memerintah bagi seluruh institusi negara.
  2.. Pengembalian mandat tersebut dilaksanakan melalui sebuah pemilihan umum  yang dipercepat dengan sistem yang lebih demokratis.
  3.. Diadakan perbaikan konstitusi yang memungkinkan pemilihan presiden secara langsung dan perubahan undang-undang partai politik dan Pemilu agar memenuhi azas kedaulatan dan keadilan rakyat.
  4.. Bila konflik politik memakan korban jiwa rakyat, maka sepenuhnya menjadi tanggungjawab dari semua elit politik yang menguasai institusi-institusi negara.
  5.. Menyerukan kepada masyarakat untuk menarik dukungannya dari seluruh institusi politik negara yang telah dan sedang melakukan praktek penyelewengan kekuasaan
  6.. Menyerukan kepada masyarakat agar waspada dan tidak terkecoh atas usaha-usaha militer dan kekuatan Orde Baru untuk kembali ke dalam kancah politik nasional.
  7.. Menyerukan kepada masyarakat agar menolak segala bentuk penggunaan teror dan kekerasan.
  8.. Menyerukan kepada seluruh gerakan pro-demokrasi untuk melakukan konsolidasi demi menjaga keberlangsungan jalannya demokrasi dan reformasi
Demikianlah sikap dan resolusi Koalisi Ornop untuk mengembalikan reformasi ke relnya kembali.

Jakarta, 22 Juli 2001
 
        1.. INFID
        2.. YLBHI
        3.. PBHI
        4.. PBHI Jakarta
        5.. WALHI
        6.. WALHI Sumsel
        7.. Solidaritas Perempuan
        8.. Mitra Perempuan
        9.. Gema Perempuan
        10.. Koalisi Perempuan Indonesia
        11.. APIK
        12.. LBH APIK, Jakarta
        13.. Sanggar Ciliwung
        14.. URP
        15.. BP-KPA
        16.. KAPAL Perempuan
        17.. FND
        18.. HuMa
        19.. Yayasan NADI
        20.. FPPI
        21.. SOLIDAMOR
        22.. PIJAR Indonesia
        23.. Solidaritas Nusa Bangsa
        24.. YLK Sulsel
        25.. Koalisi Ornop Sulsel
        26.. Forum Pemerhati Perempuan Sulsel
        27.. Aliansi Nasional untuk Konsolidasi Demokrasi
        28.. YKRS
        29.. Bina Desa
        30.. ELSAM
        31.. FAPI
        32.. Institut Sosial Jakarta
        33.. Kelompok Perempuan Salsabila
        34.. YBH Bantaya, Palu
        35.. Lembaga Bela Banua Talino, Pontianak
        36.. Serikat Petani Karet Kalbar, Pontianak
        37.. Konsorsium Pemberdayaan Masyarakat Dayak Pancur Kasih, Pontianak
        38.. Yayasan Leuser Lestari, Medan
        39.. Kelompok Studi Konservasi Alam, Medan
        40.. AKATIGA Bandung
        41.. YBKS Solo
        42.. Koslata Mataram
        43.. Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KSHK)
        44.. Jaring PELA
        45.. RMI Bogor
        46.. KAPT/N
        47.. Masyarakat Indonesia untuk Kemanusiaan (MIK)
        48.. INSIST, Yogyakarta
        49.. Seknas KOP-WTO
        50.. Jaringan Organisasi Independen untuk Penguatan Rakyat (JOITARA), Sumut
        51.. Serikat Perempuan Indonesia, Sumut
        52.. Perhimpunan Buruh Perkebunan Independen Sumut (PERBBUNI)
        53.. Urban Poor Consortium (UPC)
        54.. SARI Solo
        55.. FORSOLA
        56.. Manikaya Kauci, Bali
        57.. Yayasan Hidup Baru, Jakarta
        58.. TAPAK AMBON
        59.. LBH Pemberdayaan Perempuan Indonesia, Makasar
        60.. Serikat Nelayan Sumatera Utara (SNSU)
        61.. Yayasan HAPSARI Perbaungan, Sumut
        62.. Pusat Komunikasi dan Informasi Perempuan (PIKP), Sumut
        63.. Yayasan Anak Laut (YAL), Sumut
        64.. Wadah Pengembangan Alternatif Pedesaan (WPAP), Sumut
        65.. Solidaritas untuk Perjuangan Buruh (SERU), Sumut
        66.. Yayasan Buruh Mandiri (BUMI), Sumut
        67.. Yayasan Pendidikan Bersama Masyarakat (YPBM), Sumut
        68.. Lembaga Pemajuan  Sumberdaya Rakyat (LAJUSUAR), Sumut
        69.. Perhimpunan Petani Mandiri (PERPARI), Sumut
        70.. Forum Komunikasi Pelajar (FKP), Sumut
        71.. Forum Mahasiswa Deli Serdang (FORMADES)
        72.. Kelompok Sedar Tani, Sumut
        73.. Yayasan Bina Alam Indonesia, Sumut
        74.. Handal Mahardika, Sumut
        75.. Konsorsium Pembela Buruh Migran Indonesia (KOPBUMI)


お問い合わせ先:

日本インドネシアNGOネットワーク
〒110-0015 東京都台東区東上野1-20-6 丸幸ビル5F
TEL:03-5818-0507  FAX:03-5818-0520 
E-mail: janni@jca.apc.org